Aku yakin bahwa setidaknya sekali dalam hidup Anda, Anda telah bertemu dengan pasangan yang ideal, yang semua orang bisa melihat sangat bahagia dalam kebersamaan.
Apa yang dapat Anda lakukan sehingga Anda dan pasangan akan berada di antara pasangan bahagia?
Anda harus peduli tentang belajar banyak hal tentang orang yang Anda cinta, bahkan sebelum terlibat dengan mereka.
Cinta dan kebahagiaan dalam hidup sulit untuk menemukan, dan bahkan sulit untuk disimpan untuk hidup. Jadi, pasangan yang ideal sebenarnya sangat jarang.
Apa yang dapat Anda lakukan untuk menemukan orang yang ideal untuk Anda, atau bagaimana Anda menilai orang yang Anda sudah cinta?
1. Anda harus memperhatikan reaksi mereka. Jika mereka egois dan mereka tidak peduli tentang cara Anda merasa, ini berarti bahwa Anda harus berpikir serius jika Anda benar-benar ingin memiliki affair dengan mereka ...
2. Ada 8 tipe psikologis yang berbeda yang menentukan kepribadian setiap orang. Anda harus memiliki gagasan tentang bagaimana mereka cocok bersama-sama untuk melihat apakah Anda dan pasangan Anda benar-benar cocok bersama.
3. Ada banyak bahaya dalam suatu hubungan bahwa Anda harus belajar bagaimana untuk menghindari.
Ini adalah langkah dasar Anda terlebih dahulu. Tapi ada banyak lagi ...
Perhatikan segala sesuatu tentang orang lain. Hati-hati menganalisis gaya mereka, jawaban mereka, perilaku mereka, segala sesuatu yang Anda bisa.
Semuanya tergantung pada keseriusan Anda. Hidup bukan mainan dan manusia sangat liar, karena ia telah mewarisi terlalu banyak absurditas dalam kesadaran anti-, bagian primitif otak.
Anda harus sangat berhati-hati sehingga Anda tidak terlibat dengan orang-orang yang hanya akan membuat Anda menderita!
Jika Anda ingin benar-benar bahagia dalam hidup, tidak hanya dalam kasih, sebagaimana juga di semua bidang, Anda harus belajar bagaimana untuk mengubah kepribadian Anda sendiri pertama-tama, sehingga Anda akan selalu seimbang dan bijaksana.
Selain itu, Anda akan tahu betul siapa orang-orang yang hidup di sekitar Anda, karena Anda akan memiliki informasi tentang segala sesuatu dalam mimpi Anda sendiri.
Jadilah cerdas dan bertanggung jawab, dan Anda pasti akan menemukan cinta sejati dan kebahagiaan dalam hidup, dan mereka akan tidak hanya bertahan hidup tetapi akan membantu orang lain percaya pada berkat cinta dan kebahagiaan untuk contoh Anda, karena Anda dan orang yang Anda cintai akan pasangan yang ideal dikagumi oleh semua orang!
Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2215422-betapa-pentingnya-cinta-dalam-hidup/#ixzz2QiPMSpBH
Room Hannafi™
Rabu, 17 April 2013
Selasa, 16 April 2013
PENYESALAN
Angin
malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang
merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski
bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan
tersebut tak turut menghibur hati Jono yang
sedang padam bagai tersiram air yang deras.
Jono adalah seorang pria yang sedang berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Jono termenung tak berdaya, pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran sang Ibu yang dulu di sayangnya.
Dua jam berlalu, Jono masih dalam posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera memanjatkan doanya.
“wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih percaya dengan Tuhan.
Selang beberapa menit, suara handphone yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih mengingat istri dan anaknya.
“semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.
Tangan kanannya yang semula memegang permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya.
JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAH
Melihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya.
“wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan.
Derai air mata yang pada saat itu terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.
Akhirnya ia bergegas menuju rumah orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya lah saja.
Sepeda besi berkarat yang setia menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah, rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono.
“Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya.
“ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk tubuh ayahnya.
“sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.
Perbincangan ayah dan anak tersebut terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya.
“ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.
Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah, setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah.
“itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya
“nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah.
“baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis.
Akhirnya Jono pulang dan kembali ke rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan jono.
“siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu.
“hahaha...,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan, hahaha... .”jawab jin itu puas.
Mendengar penjelasan jin, jono seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya.
“baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika tidak kau berarti hanya seorang pembual.”
“memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.”
“aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk halus.”
“Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.”
“wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”
Mendengar jawaban jono, jin itu menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi satu pesan kepada jono.
SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN.
THE END
Jono adalah seorang pria yang sedang berkepala lima akan tetapi satu persatu anaknya pergi meninggalkan Jono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Jono termenung tak berdaya, pandangannya kosong yang di pikirnya hanya satu bagaimana ia mendapatkan uang dan tidur pulas di rumah bersama Tini istrinya dan Riko anaknya yang masih tersisa, ia tak berani pulang ke rumah dengan tangan hampa sebab jika pulang ia hanya mendapatkan cacian dari sang istri bahkan ia di suruh tidur di luar rumah, sebenarnya Jono tak tahan lagi atas perlakuan Tini, namun apa daya nasi telah menjadi bubur padahal sejak masih menjadi kekasihnya ,Ibu Jono melarang Jono berhubungan dengan Tini,Ibu Jono tidak suka dengan sikap Tini yang sombong dan tak sopan itu akan tetapi Jono memperdulikannya, ia hanya ingin menikah dan membangun keluarga baru bersama istrinya yang cantik yaitu Tini dan kini hanya ada penyesalan yang mendalam yang di rasakan seorang pria yang selalu memakai kaca mata minues, selain hidupnya sengsara,ia pun sudah di coret dalam buku harta warisan orang tuanya,bahkan ia menikah tanpa restu dan kehadiran sang Ibu yang dulu di sayangnya.
Dua jam berlalu, Jono masih dalam posisinya, duduk dan memandangi bintang di langit berharap bintang itu jatuh kemudian ia dapat berdoa agar seseorang dapat membantu kesusahannya.Dua jam yang tak sia-sia tiba-tiba benda asing jatuh dari langit,melihat peristiwa tersebut sontak membuat Jono terkejut, ia beranggapan bahwa benda asing itu adalah sebuah bintang yang jatuh dari angkasa,tanpa pikir panjang Jono segera memanjatkan doanya.
“wahai bintang yang jatuh bantu lah aku dari kesusahan ini, berilah jalan keluar untuk ku”,harapannya yang keluar dari mulut manisnya, meski ia masih percaya dengan Tuhan.
Selang beberapa menit, suara handphone yang di ikat kuat menggunakan gelang karet di permukaannya berbunyi dengan nada yang beraturan, senyum lebar terpasang di bibirnya namun memori otaknya masih mengingat istri dan anaknya.
“semoga saja ini berita baik untuk ku”,ucapnya dalam hati.
Tangan kanannya yang semula memegang permukaan kursi kini beranjak naik merangkul benda kotak kecil itu di saku bajunya, sebuah pesan singkat dari seseorang yang tak asing dipikirannya.
JONO TOLONG PULANG KE RUMAH, IBU MU SAKIT PARAH
Melihat pesan tersebut ekpresi wajahnya mendadak berubah,aliran darahnhya seakan-akan tak mau mengalir,jantung terasa teriris belati tajam,tak terasa butir-butir air mata menetes,menetes,dan terus menetes hingga kini ia di banjiri tangisan,doanya yang sudah ia ucapkan berbalik menjadi bumerang untuk hidupnya.
“wahai bintang !,mengapa kau kabulkan doa yang bukan aku harapkan,mengapa kau tega kepada ku?,menambah beban di hidup ku”,protesnya seraya membentangkan kedua tangannya,wajahnya menatap ke atas langit memberi ekpresi kesal, seolah tak terima dengan berita buruk yang telah ia dapatkan.
Derai air mata yang pada saat itu terus mengalir membasahi pipinya,mengingatkannya saat ia membuat segores luka di hati ibu nya, mendorong sang ibu hingga terjatuh dan akhirnya Ayah mengusirnya bersama istrinya,mungkinkah ini balasan untuk ku ?, ataukah buah dari perbuatan ku selama ini kepada Ibu,pikirnya dalam hati.
Akhirnya ia bergegas menuju rumah orang tuanya yang sangat membutuhkan kehadirannya,ia tak peduli nanti jika ibu nya tak menerima kedatangannya,asalkan ia bisa bertemu dengan ibu,dan ibu nya lah saja.
Sepeda besi berkarat yang setia menemani kemana Jono pergi itu di kayuhnya,berkilo-kilo meter jarak yang ia tempuh,keringat terus mengguyur seluruh tubuhnya,lelah pun di rasakan oleh seorang anak yang merindukan sosok ibu, namun semua itu terbayar ketika ban kendaraan tak bermesin itu berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah, rumah itu milik keluarga besar KURNIAWAN, rumah yang menemaninya hampir dua puluh tahun,pintu gerbang yang biasa ia lewati menuju rumah, ayunan yang sejak kecil ia pakai untuk bermain, kursi bercat putih yang tidak berubah tampilannya yang dulu ia pakai untuk sekedar duduk-duduk saja, kini membawanya ke dunia masa lalu, masa lalu yang indah dimana ia selalu di peluk oleh ibu,dimana ibu dan ayahnya selalu memberi senyuman indah untuknya.Dari balik pintu terlihat sosok manusia yang berbadan gemuk,berkaca mata,dan berambut pelontos melemparkan satu senyuman manis tepat mengenai Jono.
“Ono kesini lah nak, ayah dan ibu merindukanmu”,rayu sang ayah seraya membentangkan tangannya berharap sang anak memeluk dirinya.
“ayah,maafkan jono, jono menyesal telah berbuat seperti ini”,balasnya dengan nada yang tak jelas akibat isak tangis yang memburu kemudian memeluk tubuh ayahnya.
“sudahlah jono jangan kau sesalkan perbuatan mu dulu karena itu sudah ayah lupakan,ayah dan ibu sudah memaafkan mu, ayah dan ibu juga meminta maaf karena sudah mengusir mu”,jawab ayah seraya mengelus punggungnya.
Perbincangan ayah dan anak tersebut terdengar oleh seorang wanita tua yang tertutupi oleh uban di rambutnya.
“ayah di luar ada siapa ?”,tanya ibu dengan suara serak sesekali ia batuk.
Pandangan Jono tertuju ke arah Ayah, setelah pandangannya dan pendengarannya mengarah ke pintu rumah.
“itu ibu nak,ayo lah masuk ke dalam, bertemu lah dengan ibu mu, ibu sangat merindukan mu”,ajak sang ayah kepadanya
“nanti saja yah, Jono belum siap untuk bertemu ibu, mungkin besok Jono datang bersama keluarga”,ujar Jono seraya memegang tangan ayah.
“baiklah,ayah mengerti ya sudah pulanglah nak,istri dan anak-anak mu mungkin mengkhawatirkan mu”,ucap ayah memberi satu lagi senyuman manis.
Akhirnya Jono pulang dan kembali ke rumahnya dengan rasa senang,tenang dan nyaman meski Jono masih belum bertemu dengan ibunya setidaknya ayah masih menyambutnya dengan ramah. Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan temuan benda asing, benda asing yang berbentuk botol itu memaksa ban sepeda jono berhenti untuk kedua kalinya, rasa ingin tau nya muncul dipegangnya botol itu oleh jono kemudian penutup botol itu terbuka ketika jono memaksakan tangannya untuk membuka, tiba-tiba dari botol itu keluar asap tebal yang menutupi seluruh pandangannya, namun ketika asap itu sedikit demi sedikit menghilang pandangan jono tertuju pada sosok orang yang berpostur tinggi jenggotnya dipenuhi uban penampilannya pun sangat membingungkan jono.
“siapa kau!.”ujar jono mengangkat telunjuknya kearah orang asing itu.
“hahaha...,aku adalah jin dari timur tengah, karena tuan telah menyelamatkan hamba, hamba beri satu permintaan, apa saja yang tuan minta hamba akan kabulkan, hahaha... .”jawab jin itu puas.
Mendengar penjelasan jin, jono seolah tak percaya namun apa salahnya jika mencoba, pikirnya.
“baiklah jika kau bisa kabulkan permintaan ku aku akan percaya padamu jika tidak kau berarti hanya seorang pembual.”
“memang apa permintaan mu wahai tuan ku?.”
“aku ingin kembali ke dua puluh tahun lalu itu saja permintaan ku wahai mahluk halus.”
“Wahai tuan ku !, maaf kan aku jika aku lancang, aku hanya ingin tahu dibalik permintaan mu itu, sungguh aku tak mengetahui maksud permintaan mu.”
“wahai jin !,jika kau kabulkan permintaan ku nanti, di masa lalu itu aku ingin berubah dan lebih menghargai kedua orang tua ku termasuk ibuku.”
Mendengar jawaban jono, jin itu menangis dan akhirnya permintaan jono itu dikabulkan olehnya dengan memberi satu pesan kepada jono.
SESUNGGUHNYA PENYESALAN ITU AKAN DATANG SETELAH KITA BERBUAT SATU KESALAHAN, MAKA JANGAN LAH MELAKUKAN KEMBALI KESALAHAN ITU KARENA JIKA MELAKUKAN KEMBALI BERSIAPLAH UNTUK MENGHADAPI PENYESALAN.
THE END
Jodoh Itu Rahasia Allah SWT
Sekuat mana kita Setia,,, Sehebat mana kita Merancang, Selama mana kita Menunggu, Sekeras mana kita Bersabar, Sejujur mana kita Menerima dirinya..
Jika takdir Allah menentukan yang kita tidak berjodoh dengannya, Kita tidak akan bersama dengannya.
Namun jika Allah telah menulis jodoh kita dengannya, Kita tetap akan bersama dengannya, walaupun kita dipisahkan oleh jarak dan tidak pernah komunikasi sebelumnya kerana pasti ada saja cara Allah untuk menemukan kita dengannya..
Kerana tulang rusuk dan pemiliknya takkan pernah tertukar dan akan bertemu pada saat yang tepat menurut ilmu_Nya.Tiada yang kebetulan melainkan semuanya telah ALLAH aturkan untuk kita...
Amin Ya Robal alamin
Sabtu, 13 April 2013
Sejarah Nabi Muhammad S.A.W.
I. Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada
saat yang sangat kritis itu muncullah sebuah bintang pada malam yang
gelap gulita. Sinarnya semakin terang membuat malam menjadi terang
benderang. Ia bukan bintang yang biasa, tapi bintang yang sangat luar
biasa, bintang yang mampu menembus lubuk hati manusia. Cahayanya terang
benderang. Bahkan matahari di siang haripun malu menampakkan sinarnya
karena bintang ini adalah maha bintang yang terlahirkan ke muka bumi,
ialah cahaya dalam kegelapan, ia adalah cahaya di dalam dada, ia dikenal
dengan Nama Muhammad.
Menurut sejarawan, nama Muhammad artinya “dia yang terpuji” tepat
terlahir di kota Mekkah tanggal 12 Rabiul Awwal (17 Rabiul awwal
menurut mazhab Syiah) 570 M atau sering disebut tanggal 20 April 570 M
dan meninggal 8 Juni 632 M di Madinah. Namun, Cahaya Muhammad (Nur
Muhammad) sebagai penerang umat manusia tak pernah padam walaupun 14
abad setelah ketiadaannya. Ia bahkan semakin terang dan semakin terang.
Dalam
sejarah modern, seorang penulis Barat yaitu Michael H. Hart, dalam
bukunya “The 100” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “100
tokoh yang mempengaruhi dunia”, menetapkan Nabi Muhammad S.A.W sebagai
tokoh nomor satu yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.
Menurut Michael H. Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang
berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal
duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah
belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan
Romawi di medan pertempuran. Kedudukan nomor 2 di buku Michael H. Hart
ditempati oleh tokoh ilmuwan terkenal penemu rumus gravitasi yaitu Sir
Isaac Newton dari Inggris.
Nabi
Muhammad SAW memiliki silsilah yang berhubungan langsung dengan jawara
Tauhid yaitu Nabi Ibrahim a.s melalui anaknya Ismail a.s, yang
dilahirkan melalui rahim-rahim suci dan terpelihara dari
perbuatan-perbuatan mensekutukan Tuhan. Ia begitu suci sehingga Tuhan
memerintahkan kepada Para Malaikat dan Jin untuk bersujud kepada Adam,
karena cahayanya dibawa oleh Adam AS untuk disampaikan kepada sosok yang
telah menjadi rencana Allah SWT sejak awal penciptaan yaitu Muhammad.
Karena besarnya cahaya kesucian dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW bahkan
langit dan bumi pun tak kan sanggup memikulnya.
Peristiwa
kelahiran Sang Nabi yang menjadi Rahmat bagi Semua Alam dipenuhi dengan
kejadian-kejadian yang luarbiasa. Kelahiran Nabi Muhammad dimulai
dengan peristiwa padamnya api abadi di kerajaan Persia. Lantas, hancur
juga sesembahan batu berhala di sana. Mekkah, kota dimana Sang Nabi
dilahirkan, penyerangan pasukan bergajah Abrahah untuk menghancurkan
Kabah mengalami kegagalan. Burung-burung api, Thoiron Ababil seolah
menjadi sayap-sayap burung api yang menghancurkan musuh Tuhan. Mekkah,
tempat dimana Ka’bah berada, kelak di kemudian hari menjadi kiblat bagi
Umat Muhammad sampai akhir zaman. Namun tentara Abrahah yang
berkendaraan gajah itu dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan
oleh Sang Pemilik kiblat (Kabah) yaitu Thoirion Ababil. Tahun peristiwa
itu kemudian disebut tahun Gajah.
Sudah
menjadi tradisi bahwa kelahiran manusia luar biasa harus juga didahului
peristiwa yang luar biasa. Muhammad namanya, ayahnya bernama Abdullah,
Ibundanya Aminah. Kedua orang tuanya berasal dari silsilah yang mulia
yang merupakan keturunan Jawara Tauhid (Nabi Ibrahim AS). Abdullah lahir
kedunia hanya untuk membawa Nur Muhammad, Cahaya Terpuji dan
meletakkannya ke dalam rahim istrinya yaitu Aminah. Aminah saat itu
mengandung (2 bulan) bayi yang kelak menjadi manusia besar. Setelah lama
kepergian sang suami karena berdagang, sang isteri merasakan kesepian
yang amat dalam, walaupun suaminya selalu berkirim surat. Namun pada
saat lain surat tidak lagi ia terima, begitu riang hatinya ternyata ia
melihat rombongan dagang suaminya telah pulang. Tapi mendadak ia amat
terkejut karena tak dilihatnya suaminya. Kemudian, datanglah seseorang
dari rombongan tersebut yang menyampaikan berita duka kepada Aminah.
Mulutnya begitu berat untuk mengucapkan kata kata ini kepada wanita ini,
ia tidak sanggup mengutarakannya, namun akhirnya terucap juga bahwa
sang suami telah berpulang ke hadirat Allah Swt dan dimakamkan di Abwa.
Aminah
begitu goncang hatinnya mendengarkan hal ini. Ia tak sanggup menahan
tangis. Aminah pun menangis menahan sedih dan tak makan beberapa hari.
Namun ia bermimpi, dalam mimpinya seorang wanita datang dan berkata
kepadanya agar ia menjaga bayi dalam janinnya dengan baik baik. Ia
berulang kali bermimpi bertemu dengan wanita tersebut yang ternyata
adalah Maryam binti Imran (Ibu Isa a.s). Dalam mimpinya sang wanita
mulia ini berkata :
“Kelak
bayi yang ada didalam rahimmu akan menjadi manusia paling mulia sejagat
raya, maka jagalah ia baik baik hingga kelahirannya.”
Abdullah,
ayahnda Nabi Muhammad S.A.W. wafat dalam usia 20 tahun (riwayat lain
ada yang mengatakannya 17 tahun). Nabi saat itu masih berada dalam
kandungan ibundanya. Beberapa tahun kemudian, setelah usia Nabi yang
waktu kecil diberi nama Ahmad menginjak 6 tahun, Aminah Ibunda Nabi
Muhammad wafat juga menyusul suaminya dan dimakamkan di Abwa juga.
Muhammad dibawa pulang oleh Ummu Aiman dan diasuh oleh kakeknya Abdul
Mutholib. Tapi, belum lagi hilang duka setelah ditinggal Sang Bunda, ia
pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak
delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, Nabi Muhammad diasuh oleh
pamannya, Abu Tholib.
Pemandu
umat manusia selalu saja dipilihkan oleh Allah SWT untuk memiliki
pengalaman hidup sebagai seorang gembala. Nabi-nabi Bani Israel umumnya
juga berasal dari kalangan gembala. Melalui profesi ini beliau
mengarungi beberapa waktu kehidupannya untuk kelak menjadi gembala yang
lebih besar yaitu menjadi pembimbing Umat Manusia sedunia. Jadi, sejak
kecil Nabi Muhammad sebenarnya sudah dididik oleh Allah SWT untuk
menjadi pemimpin yang memberikan rahmat. Ini merupakan keputusan Allah
SWT baginya yang telah memilihkan baginya sebuah jalan dimana hal ini
penting bagi orang yang akan berjuang melawan orang-orang yang
berpikiran sempit dan picik sampai-sampai mereka menyembah aneka batu
dan pohon, bahkan tidak jarang mempertuhankan manusia. Allah SWT
mendidiknya dengan penuh rahmat sejak kecil sehingga menjadikannya kuat
menghadapi segala cobaan hidup dan tidak mudah menyerah kepada apapun
kecuali hanya berserah kepada keputusan Allah SWT saja.
Ada penulis sirah (sejarah) yang mengutip kalimat Nabi berikut ini,
“Semua
Nabi pernah menjadi gembala sebelum beroleh jabatan kerasulan. Orang
bertanya kepada Nabi Apakah Anda juga pernah menjadi gembala? Beliau
menjawab, Ya. Selama beberapa waktu saya menggembalakan domba orang
Mekah di daerah Qararit.”
Ahmad
yang kelak menjadi Nabi Muhammad S.A.W. lahir bukan dari kalangan orang
yang teramat kaya. Belum lagi ia dilahirkan sebagai seorang yatim,
yaitu telah kehilangan Ayah sebelum dilahirkan. Ibundanya Aminah sejak
kecil menjadi tempat bernaung. Apa yang dapat dikatakan oleh anak kecil
yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedangkan dia sendiri masih
membutuhkan naungan kedua orang tua dan kasih sayang mereka.
Tanpa
kedua orang tua yang mengasuhnya, Nabi Muhammad tidak hidup dalam
kemewahan. Meskipun demikian, Muhammad terkenal dengan kemuliaan
rohaninya, keluhuran budi, keunggulan ahklaq dan dirinya dikenal di
masyarakat sebagai orang jujur (al-Amin). Ia menjadi salah seorang
kafilah dagang Khodijah yang terpercaya dan Khodijah memberikan upah
(gaji) dua kali lipat dibandingkan yang diberikannya kepada orang lain.
Kafilah Quraisy, termasuk barang dagangan Khodijah, setiap berdagang di
luar daerahnya umumnya mendapatkan laba (untung). Namun, laba yang
diperoleh Nabi lebih banyak ketimbang lain. Suatu saat, ketika kafilah
dagang kembali ke kota Makkah. Dalam perjalanan, Sang bintang melewati
negeri Ad dan Tsamud. Keheningan daerah hancur karena bencana kematian
itu mengundang perhatian Nabi Muhammad SAW. Kelak di kemudian hari,
Allah SWT sendiri yang mengabarkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang
peristiwa apa yang terjadi pada kaum Ad dan Tasmud itu.
Suatu
saat, sewaktu mulai bekerja pada Khadijah, karena takjub dengan
keahlian dagang Nabi Muhammad, Maisarah salah satu pembantu Khadijah
berkata kepada Nabi supaya ketika memasuki kota Mekkah mendahului
kafilah dagangnya dan terlebih dulu mengabarkan kepada Khodijah tentang
perdagangan dan keuntungan besar yang telah didapat.
Nabi
tiba di Mekah ketika Khodijah sedang duduk di kamar atasnya. Ia berlari
turun dan mengajak Nabi ke ruangannya. Nabi menyampaikan, dengan
menyenangkan, hal-hal menyangkut barang dagangan. Maisarah yang menjadi
akuntan Khadijah kemudian menceritakan tentang Kebesaran jiwa Al-Amin
selama perjalanan dan perdagangan. Maisarah kemudian menceritakan suatu
kisah yang menarik. Katanya, sewaktu di Busra, Al-Amin duduk di bawah
pohon untuk istirahat. Ketika itu, seorang pendeta yang sedang duduk di
biaranya kebetulan melihatnya. Ia datang seraya menanyakan namanya
kepada saya, kemudian ia berkata, Orang yang duduk di bawah naungan
pohon itu adalah nabi, yang tentangnya telah saya baca banyak kabar
gembira di dalam Taurat dan Injil. Kemudian Khodijah menceritakan apa
yang didengarnya dari Maisarah kepada pamannya yaitu Waraqah bin Naufal,
si hanif dari Arabia. Waraqah mengatakan, Orang yang memiliki
sifat-sifat itu adalah nabi berbangsa Arab.
II. Pernikahan
Kebanyakan sejarawan percaya bahwa yang menyampaikan lamaran Khadijah kepada Nabi ialah Nafsiah binti Aliyah sebagai berikut:
“Wahai
Muhammad! Katakan terus terang, apa sesungguhnya yang menjadi
penghalang bagimu untuk memasuki kehidupan rumah tangga? Kukira usiamu
sudah cukup dewasa! Apakah anda akan menyambut dengan senang hati jika
saya mengundang Anda kepada kecantikan, kekayaan, keanggunan, dan
kehormatan ?”
Nabi menjawab, “Apa maksud Anda?”
Ia lalu menyebut Khodijah. Nabi lalu berkata, “Apakah Khodijah siap untuk itu, padahal dunia saya dan dunianya jauh berbeda?”
Nafsiah
berujar, “Saya mendapat kepercayaan dari dia, dan akan membuat dia
setuju. Anda perlu menetapkan tanggal perkawinan agar walinya (Amar bin
Asad) dapat mendampingi Anda beserta handai tolan Anda, dan upacara
perkawinan dan perayaan dapat diselenggarakan”.
Kemudian
Muhammad membicarakan hal ini kepada pamannya yang mulia, Abu Tholib.
Pesta yang agung pun diselenggarakan. Sang paman yang mulia ini
menyampaikan pidato, mengaitkannya dengan puji syukur kepada Tuhan.
Waraqah, paman Khodijah, tampil dan mengatakan sambutannya. Upacara pun
dilaksanakan. Mahar ditetapkan empat puluh dinar-ada yang mengatakan dua
puluh ekor unta.
Nabi
Muhammad sekarang mulai dewasa, ia mempunyai seorang istri yang begitu
lengkap kemuliaannya, dari perkawinan ini Khodijah melahirkan enam orang
anak, dua putra, Qasim, dan Abdulah, yang dipanggil At-Thayyib, dan
At-Thahir. Tiga orang putrinya masing-masing Ruqayyah, Zainab, Ummu
Kaltsum, dan Fatimah. Kedua anak laki-lakinya meninggal sebelum Muhammad
diutus menjadi Rosul.
Ketika
umur Nabi mulai menginjak 35 tahun, banjir dahsyat mengalir dari gunung
ke Kabah. Akibatnya, tak satu pun rumah di Makah selamat dari
kerusakan. Mekkah kebanjiran. Dinding Kabah mengalami kerusakan. Orang
Quraisy memutuskan untuk membangun kembali Kabah tapi takut
membongkarnya.
Walid
bin Mughirah, orang pertama yang mengambil linggis, meruntuhkan dua
pilar tempat suci tersebut. Ia merasa takut dan gugup. Orang Mekah
menanti jatuhnya sesuatu, tapi ketika ternyata Walid tidak menjadi
sasaran kemarahan berhala, mereka pun yakin bahwa tindakannya telah
mendapatkan persetujuan Dewa.
Mereka
semua lalu ikut bergabung meruntuhkan bangunan itu. Pada saat
pembangunan kembali Kabah, diberitahukan pada semua pihak sebagai
berikut, “Dalam pembangunan kembali Kabah, yang dinafkahkan hanyalah
kekayaan yang diperoleh secara halal. Uang yang diperoleh lewat
cara-cara haram atau melalui suap dan pemerasan, tak boleh dibelanjakan
untuk tujuan ini.”
Terlihat
bahwa ini adalah ajaran para Nabi, dan mereka mengetahui tentang
kekayaan yang diperoleh secara tidak halal, tetapi kenapa mereka masih
melakukan hal demikian, inipun terjadi di zaman ini, di Indonesia,
rakyat ataupun pemerintahnya mengetahui tentang halal dan haramnya suatu
harta kekayaan atau pun perbuatan yang salah dan benar, tapi mereka
masih saja melakukan perbuatan itu walaupun tahu itu adalah salah.
Mari
kita kembali lagi menuju Mekah, ketika dinding Kabah telah dibangun
dalam batas ketinggian tertentu, tiba saatnya untuk pemasangan Hajar
Aswad pada tempatnya. Pada tahap ini, muncul perselisihan di kalangan
pemimpin suku. Masing-masing suku merasa bahwa tidak ada suku yang lain
yang pantas melakukan perbuatan yang mulia ini kecuali sukunya sendiri.
Karena hal ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Masalah
mencapai tahap kritis, akhirnya seorang tua yang disegani di antara
Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Makhzumi, mengumpulkan para pemimpin
Quraisy seraya berkata,
“Terimalah sebagai wasit orang pertama yang masuk melalui Pintu Shafa.(buku lain mencatat Bab as-salam).”
Semua
menyetujui gagasan ini. Tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu. Serempak
mereka berseru, “Itu Muhammad, al-Amin. Kita setuju ia menjadi hakim
sengketa ini!”
Untuk
menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar
kain. Beliau meletakkan Hajar Aswad di atas kain itu dengan tangannya
sendiri, kemudian meminta tiap orang dari empat sesepuh Mekah memegang
setiap sudut kain itu. Ketika Hajar Aswad sudah diangkat ke dekat pilar,
Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan cara
ini, beliau berhasil mengakhiri pertikaian Quraisy yang hampir pecah
menjadi peristiwa berdarah.
Sejak
kelahirannya, Allah SWT telah menentukan tentang semua ini. Tanda-tanda
Ahmad yang kelak menjadi Muhammad menjadi seorang Nabi besar telah
banyak tampak pada diri Muhammad, dari batinnya yang mulia sampai pada
bentuk lahirnya yang indah. Kesabaran yang diabadikan di dalam Kitab
suci menjadi bukti yang tak terbantahkan, bahwa ia adalah manusia
sempurna (al-Insan al-Kamil), dalam wujud lahiriah (penampakan), maupun
batinnya. Tidak ada cela apalagi kesalahan besar selama hidupnya. Allah
SWT benar-benar telah menciptakan sejak awal bahwa kelak Muhammad akan
menjadi makhluk ciptaan-Nya yang penuh kemuliaan.
Kejujuran
dan kebersihan hati Nabi Muhammad SAW menyebabkan dirinya disebut
Al-Amin oleh masyarakat Mekah. Ia menjadi sosok panutan masyarakat,
sebagai manusia mulia, sebagai manifestasi wujud kejujuran mutlak.
Sebelum diutus menjadi Rosullullah, Muhammad selalu mengamati
tanda-tanda kekuasaan Tuhan, baik di alam, di lingkungan sekitarnya,
diantara manusia, dan mengkajinya secara mendalam. Terutama mengamati
keindahan, kekuasaan, dan ciptaan Allah dalam segala wujud. Beliau
selalu melakukan telaah mendalam terhadap langit, bumi dan isinya.
Beliau selalu mengamati masyarakatnya yang rusak, dan hancur, beliau
mempunyai tugas untuk menghancurkan segala bentuk pemberhalaan. Apalah
kiranya yang membuat masyarakatnya seperti ini, ia mengembalikan semua
ini kepada Tuhan, yang menurutnya tak mungkin sama dengan manusia.
Untuk
merenungkan semua itu, Muhammad mempunyai tempat sendiri yaitu di
Gunung Hira. Gunung itu puncaknya dapat dicapai kurang lebih setengah
jam. Di gua gunung Hira atau Gua Hira ini adalah saksi atas peristiwa
menyangkut Nabi Muhammad SAW sejak awal masa dewasa Nabi. Gua Hira
menjadi saksi bisu tentang wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad yaitu surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Gua Hira seolah-olah ingin
berkata,
“Disinilah
dulu anak Hasyim (Nabi Muhammad SAW sering disebut sebagai anak Bani
Hasyim) itu tinggal, yang selalu kalian sebut-sebut, disinilah ia
diangkat menjadi Rosul, disinilah Al-Furqon (nama lain Al Qur’an)
pertama kali dibacakan, wahai manusia, bukankah aku telah mengatakannya,
kalianlah (manusia) yang tak mau menengarkannya, kalian menutup telinga
kalian rapat-rapat, dan menertawakanku, sedangkan sebagian dari kalian
hanya menjadikan aku sebagai museum sejarah dan saksi bisu semata.”
III. Diangkat Menjadi Rasul
Jabal
an-Nur (Jabal an-Nur atau Jabal Nur), artinya "Gunung Cahaya (The
Mountain of Light)", adalah gunung dimana Gua Hira berada. Sumber gambar
: http://www.flickr.com/photos/23261007@N05/2241558560/
Gua
Hira tempat diturunkannya Wahyu Ilahi, kalimat yang membuat iblis
berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam
semesta berguncang. Al-Quran, susunan kalimatnya yang mengandung makna
yang banyak telah membuat tercengang manusia-manusia manapun di jagat
raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang
tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang
menolak, dengan cara apapun akan sia-sia, dan celaka.
Gua
Hira, saksi bisu Wahyu pertama diterima oleh Nabi Muhammad S.A.W dari
Malaikat Jibril (sumber gambar :
http://www.flickr.com/photos/rabak/3184411114/)
Jibril
(Ruh Al-Qudus) diutus Allah, Tuhan Semesta Alam, Rabbul ‘Aalamin, untuk
menyampaikan kalimat-Nya secara berangsur-angsur kepada Al-amin yang
berada di Gua Hira. Muhammad SAW telah mempersiapkan dirinya selama
empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini. Jibril
kemudian datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat Allah. Ialah
kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-quran sebagai berikut
“Bacalah dengan [ menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari [manusia] dengan perantaraan kalam (pena). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat pertama ini merupakan perintah Allah S.W.T yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui Malaikat Jibril untuk “Membaca” atau “Iqra”. Apa yang dibaca dan apa maksudnya “membaca” berhubungan dengan Allah S.W.T sebagai Pencipta makhluk atau ar-Rabb.
Jadi, kalau umat Islam tidak membaca tanda-tanda (ayat-ayat) Kekuasaan
Allah SWT sebagai Pencipta makhluk berarti telah melanggar satu perintah
agung dari Allah SWT langsung. Turunnya 5 ayat surat al-‘Alaq ini
dengan tegas menyatakan tentang program atau rencana yang akan
diamanatkan kepada Nabi. Karena itu, surat ke-1 sampai ke-5 surat
al-‘Alaq dengan perintah “Iqra” atau “Baca” secara langsung menyatakan
bahwa dasar-dasar agama yang nanti disampaikan Muhammad berhubungan
dengan proses belajar yang terus menerus tentang kehidupan dimana di
dalamnya terdapat proses atau tatacara pengkajian, pengetahuan,
kebijaksanaan, dan penggunaan pena (kalam) untuk menulis. Pena atau
Qalam karena itu pengertiannya sangat penting bagi Umat Islam, karena
dengan menuliskan ilmu pengetahuan tentang Kekuasaan Allah maka ilmu
akan terikat, menjadi buku, kitab, dan akhirnya nanti akan dapat
diajarkan kepada generasi manusia selanjutnya. Jadi, betapa dahsyatnya
perintah Allah SWT yang pertama kali diterima Nabi Muhammad SAW itu
karena berhubungan dengan “membaca”, “menulis”, dan belajar secar aterus
menerus supaya manusia bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat.
Muhammad,
pembawa berita bahagia, ancaman, dan perintah merupakan manusia teladan
sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud Ilahiah, utusan Tuhan
yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafaat. Tidak satupun mahkluk
yang mencapai kesempurnaan yang dicapai Muhammad. Sejak kecil ia telah
memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak
pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada
yang miskin.
Malaikat
Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu itu, dan Muhammad pun
turun dari Gua Hira menuju rumah Khodijah dengan rasa takut amat sangat.
Tubuhnya masih menggigil ketakutan ketyika sampai di rumah dan di
sambut dengan istrinya Khadijah. Namun, saat itu Jiwa agung Nabi
Muhammad telah disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang
didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril
menyapanya, “Wahai Muhammad! Engkau Rosul Allah dan aku Jibril.”
Muhammad
menerima kalimat Tuhannya secara bertahap, secara berangsur-angsur,
fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita
yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah
syayidina Ali k.w.j.
Muhammad
mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya. Selesai makan, beliau
berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan
memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata,
“Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia. Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat).Lalu beliau menambahkan,Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda. Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?.”
Ketika
pidato Nabi mencapai titik ini, kebisuan total melanda pertemuan itu.
Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia
bangkit seraya berkata dengan mantap, “Wahai Nabi Allah, saya siap
mendukung Anda.”
Nabi
menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada
yang menyambut kecuali Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama.
Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata, “Pemuda ini
adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah
kata-katanya dan ikuti dia”. Ali kemudian sering disebut Karamallahu Wajhah (KWJ) yang maksudnya seseorang yang tidak pernah menyembah berhala ataupun memakan makanan dari hasil untuk sesembahan berhala.
Peristiwa
diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran Ali tanpa keraguan.
Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman
tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan
pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya
terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri
sendiri. Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir,
pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk
menerima kenyataan, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk
menerimanya.
Setelah
berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada
kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan
keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan
orang-orang musrik yang terus menghardik dan mengejeknya.
Banyak
cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad. Suatu
saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan
yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata,
“Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan
menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan
mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan
dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika
ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami
dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan
pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya.”
Abu
Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata, “Para sesepuh anda datang
untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak
mengganggu Anda.” Nabi menjawab, “Saya tidak menginginkan apa pun dari
mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima
satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab
dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka”. Abu Jahal bangkit
sambil berkata, “Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya”. Nabi
menjawab, “Kalian harus mengakui keesaan Tuhan”.
Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata, “Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan (berhala) dan menyembah kepada satu Allah saja?”
Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata, “Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan (berhala) dan menyembah kepada satu Allah saja?”
Orang
Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar
kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka.
Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata,Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka [seraya berkata],Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”
Banyak
sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy, Tiap hari nabi
menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Muith
melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan
serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang
membebaskan Nabi karena takut pembalasan dari Bani Hasyim. Dan masih
banyak lagi.
Nabi
menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau
mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya
budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin
Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus , para pemimpin
terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang
memeluk Islam. Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut
hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat
dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik
dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.”
Pasukan
musyrik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad, maka
mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah
Nabi, Bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Quran,
menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan
orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam
Al-Quran Allah berfirman
Demikianlah,
tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum
mereka selain mengatakan,Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.
Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ?
Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.
Kaum
Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha
Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang
Esa. Mereka pun melakukan Blokade ekonomi yang membuat banyak kaum
muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para
pengikutnya masuk ke Syiib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya,
Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy
mengepung mereka di Syiib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya
tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah Nabi bersama
keluarga dan sahabatnya dari pengepungan.
Allah
telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula
keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita. Beliau
telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan
kaum wanita. Namun, ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya
untuk mendampingi Rosulullah SAW, dan dia telah berhasil menunaikan
tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga.
Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy,
tahun kesepuluh sesudah Kenabian.
Pada
tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang
sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami
kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya
yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini
dinamakan Am Al-Huzn (Tahun Duka cita).
Bukan
hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah az Zahra, yang belum kenyang
mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula
menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh
kesedihan itu. Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang
menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya
kepada ayahandanya, “Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya
pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul
merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya.
Setelah
wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu
Muhammad, akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib, peristiwa hijrahnya
Nabi ke Yastrib, merupakan momen awal dari lahirnya negara Islam.
Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi.
Di bulan Robiul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada
seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, Ali dan Abu
Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit,dan
lanjut usia.
Kaum
Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk
membunuh Muhammad di malam hari, dan masing-masing suku mempunyai wakil,
sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad.
Mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti
ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi
tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Quran merujuk pada kejadian itu
dengan kata-kata,
“Dan [ingatlah] ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”
Ali
berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam
menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi
seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang
Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman
kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi. Kepada Ali
Nabi berkata, “Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda
dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah
bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.” Ali
menempati ranjang Nabi sejak sore. Ketika tiga perempat malam lewat,
empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah.
Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang
yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.
IV. Hijrah
Fajar
menyingsing, cahayanya mulai semburat membelah gelap gulita langit
malam. Semangat dan gairah besar untuk menyergap dan membunuh Nabi
tampak di kalangan kaum musyrik. Mereka begitu yakin akan segera
berhasil. Dengan pedang terhunus mereka memasuki kamar Nabi, yang
menimbulkan suara gaduh.
Serentak
Ali mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimutnya lalu
berkata dengan sangat tenang, “Apa yang terjadi ?” Mereka menjawab,
“Kami mencari Muhammad. Di mana dia?” Ali berkata, “Apakah anda
menitipkannya kepada saya sehingga saya harus menyerahkannya kembali
kepada Anda?” Bagaimanapun, sekarang ia tak ada di rumah. Muhammad telah
pergi jauh di luar pengetahuan mereka.
Dalam
pengungsian, Nabi Muhammad tiba di Quba tanggal 12 Rabiul Awwal, dan
tinggal di rumah Ummu Kultsum ibn al-Hadam. Sejumlah kaum Muhajirin dan
Ansor sedang menunggu kedatangan Nabi. Beliau tinggal di situ sampai
akhir pekan. Sebagian orang mendesak agar beliau segera berangkat ke
Madinah, tetapi beliau menunggu kedatangan Ali.
Orang
Quraisy mengetahui hijrahnya Ali dan rombongannya diantaranya ialah
Fatimah, puteri Nabi, Fatimah binti Asad dan Fatimah binti Hamzah bin
Abdul Mutholib karena itu, mereka memburunya dan berhadap-hadapan dengan
dia di daerah Zajnan. Perselisihan pun terjadi dan Ali berkata
“Barangsiapa menghendaki tubuhnya terpotong-potong dan darahnya tumpah,
majulah!” Tanda marah nampak di wajahnya. Orang-orang Quraisy yang
merasa bahwa masalah telah menjadi serius, mengambil sikap damai dan
berbalik pulang. Ketika Ali tiba di Quba, kakinya berdarah, dikarenakan
menempuh perjalanan Makkah-Madinah dengan berjalan kaki. Nabi dikabari
bahwa Ali telah tiba tapi tak mampu menghadap beliau. Segera nabi ke
tempat Ali lalu merangkulnya. Ketika melihat kaki Ali membengkak, air
mata Nabi menetes haru.
Penduduk
Yastrib yang kemudian berganti menjadi nama Madinah – menyambut
kedatangan Nabi. Mereka mengucapkan berbagai macam syair untuk menyambut
manusia mulia ini. Disinilah manifestasi sebuah kekhalifan Islam
pertama kali didirikan.
Nabi
Muhammad kemudian menyusun kekuatannya di Madinah bersama keluarga dan
sahabat setianya yang rela meninggalkan tanah air dan hartanya
semata-mata untuk Allah SWT. Islam yang muda ini menyusun kekuatan untuk
menghadapi kekuatan kaum Quraisy yang setiap saat siap untuk
menghancurkan Islam yang dibangun ini, perang demi perang mulai dari
Badar, Uhud, Khandaq, yang disetiap perang tampillah Al-Washi Muhammad
yang selalu menjadi pemberi moral kepada pasukan untuk menghancurkan
kafir Quraisy dengan Iman yang membara.
Pada
perang Badar al-washi (Ali) dan Hamzah tampil menghadapi pemberani
kafir Quraisy, dalam sepucuk suratnya kepada Muawiyah, Ali
mengingatkannya dalam kata-kata “Pedang saya yang saya gunakan untuk
membereskan kakek anda dari pihak ibu (Utbah, ayah dari Hindun Ibu
Muawiyah), paman anda dari pihak Ibu (Walid bin Uthbah) dan saudara Anda
(Hanzalah) masih ada pada saya”.
Pada
perang Uhud Nabi dan lagi-lagi Hamzah dan Ali tidak pernah absen. Saat
itu Ali adalah pembawa panji dalam setiap peperangan. Nabi mengungkapkan
“Nilai pukulan Ali pada perang Khandaq (parit) disebut juga dengan
Ahzab kepada Amar bin Abdiwad itu. Nilai pengorbanan itu melebihi segala
perbuatan baik para pengikutku, karena sebagai akibat kekalahan jagoan
kafir terbesar itu kaum Muslim menjadi terhormat dan kaum kafir menjadi
aib dan terhina”.
V. Benteng Khaibar
Pada
perang Khaibar ketika semangat kaum muslim mengendur dan merasa tidak
mampu untuk menghancurkan benteng Khaibar, orang-orang menunggu dengan
gelisah dan ketakutan, karena sebelumnya Abu Bakar dan Umar tidak ada
yang mampu menghancurkan benteng, bahkan Umar memuji keberanian pemimpin
benteng, Marhab,yang luar biasa.
Kebisuan
orang-orang sedang menunggu dengan gelisah dipecahkan oleh kata-kata
Nabi, “Dimanakah Ali?” Dikabarkan kepada beliau bahwa Ali menderita
sakit mata dan sedang beristirahat di suatu pojok. Nabi bersabda,
“Panggil dia”. Ali diangkut dengan unta dan diturunkan di depan kemah
Nabi. Pernyataan ini menunjukkan sakit matanya demikian serius sampai
tak mampu berjalan.
Nabi
menggosokkan tangannya ke mata Ali seraya mendoakannya. Mata Ali
langsung sembuh dan tak pernah sakit lagi sepanjang hidupnya. Nabi
memerintahkan Ali maju, menurut riwayat pintu benteng Khaibar itu
terbuat dari batu, panjangnya 60 inci, dan lebarnya 30 inci.
Masih
banyak lagi peristiwa-peristiwa lain selain peperangan untuk melawan
kebejatan kaum kafir Quraisy, banyak juga peristiwa yang menggembirakan,
misalnya peristiwa pernikahan al-Washi dan Fatimah, putri Nabi,
perubahan kiblat dari Bait al-Maqdis ke Kabah di Makah. Selain serangan
dari luar Kota Madinah, kaum Yahudi yang berada di dalam kota selalu
mencoba melakukan rongrongan terhadap pemerintahan Islam yang masih muda
ini, namun Sang Maha Konsep telah menentukan Drama yang berbeda,
walaupun mereka mencoba memadamkan nur cahaya-Nya, namun Ia terus
menerangi Nur Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu benci.
VI. Fath Makkah
Tahun
kedelapan Hijrah, perjanjian Hudaibiyah dikhianati oleh orang-orang
Quraisy mekah, Nabi segera mengeluarkan perintah kesiagaan umum. Beliau
siapkan pasukan besar yang belum pernah disaksikan kehebatannya selama
ini. Ketika pasukan telah lengkap dan siap bergerak, Nabi pun
menyampaikan bahwa sasarannya adalah Mekah. Pasukan bergerak laksana
migrasi kawanan burung menuju arah selatan. Nabi memerintahkan kepada
pasukannya yang berjumlah 10.000 orang untuk membagi diri, dan
menyalakan api unggun di malam hari agar pasukan musuh melihat betapa
besar pasukan musuh tersebut.
Di
dekat kuburan Abu Tholib dan Khodijah yang terletak di punggung Mekah,
kaum muslimin membuat kubah untuk Nabi. Dari kubah inilah Nabi mengamati
dengan cermat arus pasukan Islam yang masuk ke kota dari empat penjuru.
Makkah…
Membisu di depan Nabi dan pendukungnya. Ya Mekah membisu dan tidak lagi
menyerukan teriakan Firaun-firaun, digantikan hiruk pikuk suara 10.000
prajurit Muslim yang menggema yang seakan-akan sedang menunggu
kedatangan sahabatnya
Gua
itu menatap kepada orang yang dulu berada dalam perutnya dalam keadaan
terusir yang kini telah berdiri tegap dengan gagah dan dikelilingi
puluhan ribu pengikut dan pembelanya.
Nabi
memasuki Mekah dan bertawaf, menghancurkan berhala-berhala bersama
al-Washi, tidak ada darah yang tertumpah. Orang-orang Quraisy yang
berada di Makkah menunggu bibir Muhammad berucap tentang mereka, apakah
yang akan terjadi pada mereka, namun bibir itu begitu mulia untuk
menjatuhkan hukuman, ia memberikan kepada mereka yang telah memeranginya
pengampunan dan beliau berkata … Pergilah, Anda semua adalah
orang-orang yang dibebaskan!
Kini,
di Shafa, laki-laki yang telah membuat sejarah itu telah kembali,
berdiri di depan kehidupannya yang sarat dengan berbagai peristiwa dan
yang ditangannya tergenggam masa depan yang gemilang. Selama dua puluh
tahun penggembalaannya tak pernah henti, ia tak pernah merasakan letih,
kesabarannya begitu tinggi, tak pernah menyerah. Orang orang Quraisy
berdesak-desakkan di bukit Shafa untuk memberikan Baiat.
Setelah
penaklukan Mekah masih ada beberapa peperangan besar berlanjut semasa
hidup Nabi – yaitu Hunain, Tabuk. Al-Washi tampil dengan gagah perkasa
dalam peperangan ini, sesudah membuat kocar-kacir musuh, al-washi segera
menghambur untuk bergabung dengan Nabi, ia memutari Nabi, dan
menghambur membabat musuh untuk melindungi Nabi, dan pada kali yang lain
menemui prajurit musuh yang lari dan menghadang kejaran musuh. Sesudah
itu kembali memutari Nabi. Nabi memanggil sahabat-sahabatnya yang lari
cerai-berai
“Ayyuhan
Nas, mau kemana kalian ? Wahai orang-orang yang ikut baiat al-Ridwan!
Wahai, orang-orang yang kepadanya diturunkan surat Al-Baqarah! Wahai
orang-orang yang berbaiat di bawah pohon…! “
Orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik… Kami datang, kami datang…!”
Orang-orang Madinah yang gagah berani segera sadar akan diri mereka! Dan ingat bahwa hingga saat ini mereka adalah tulang punggung Nabi. Kini Nabi memanggil mereka di tengah 12.000 orang prajurit, dua ribu diantaranya adalah kaum kerabatnya. Mereka segera menghambur ke arah Nabi menyambut panggilannya dengan, “Labbaik, Labbaik… Kami datang, kami datang…!”
Pasukan
Islam kembali memenangkan pertempuran, peran individual Muhammad dalam
menyampaikan risalah agungnya telah selesai, dan kini tidak bisa tidak
di harus melihat pasukannya, untuk kesekian kalinya, mengingat dan
mengenang kembali pelajaran yang telah diberikannya selama dua puluh
tiga tahun, agar di bisa mengevaluasi dan menelitinya kembali.
NabiMuhammad
SAW merupakan utusan Allahyang terakhir. Beliau bagaikan baju terbaik
yang pertama kali dibuat oleh Allah SWT yang akan dipakai terakhir kali
yaitu sebagai Utusan Allah yang terakhir dan terbaik. Dalam mengemban
misi dakwahnya, umat Islam percaya bahwa Muhammad diutus Allah untuk
menjadi Nabi bagi seluruh umat manusia (QS. 34 : 28), sedangkan nabi dan
rasul sebelumnya hanya diutus untuk umatnya masing-masing (QS 10:47,
23:44) seperti halnya Nabi Musa yang diutus Allah kepada kaum Bani
Israil.
Sedangkan
persamaannya dengan nabi dan rasul sebelumnya ialah sama-sama
mengajarkan Tauhid, yaitu kesaksian bahwa Tuhan yang berhak disembah
atau diibadahi itu hanyalah Allah (QS 21:25).
VII. Haji Wada
Tahun
kesebelas Hijrah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang
musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari
10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi
melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir
yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25
Dzulqadah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi
Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai
bergerak… seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan, “
“Labbaik,
Allahumma labaik… Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi
panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.
Tiada sekutu bagi-Mu…Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala
puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu…
Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu…Langit. “
Hingga
hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti
yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan
perempuan dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir
yang sebelumnya tak pernah dikenal orang bergerak menuju satu arah.
Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi
kehidupan manusia. Dan sejarah, adalah kakek tua yang terbelenggu dalam
pengabdian terhadap kepentingan-kepentingan. Ia adalah tukang cerita
yang membacakan hikayat-hikayat Firaun, Kisra dan Kaisar. Sejarah sekali
melihat Muhammad dan orang-orang yang bergerak bersamanya dengan heran!
Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandan berjalan kaki kelelahan, dan
pengikut-pengikutnya pun demikian pula. Nabi memang berjalan kaki
bersama umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa penguasa itu berada di
tengah-tengah pasukan itu, tapi ketika dicari-carinya, dia tak bisa
menemukannya. Rombongan itu masuk Mekah 4 Dzulhijjah, disitu telah
berkumpul Allah, Ibrahim, Kabah dan Muhammad. Dia juga ingin
memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besarnya, kita sudah
diantarkan kepada Maksud.
Matahari
tepat di tengah siang hari itu. Seakan-akan ia menumpahkan seluruh
cahayannya yang memakar ke atas kepala semua orang. Nabi berdiri di
depan lebih dari 100.000 orang. Laki-laki dan perempuan yang
mengelilinginya. Nabi memulai pidatonya, Rosulullah berkata,Tahukah
kalian, bulan apa ini ?
Mereka serentak menjawab,Bulan Haram! …..
…Ayyuhan
Nas, camkan baik-baik perkataanku. Sebab, aku tidak tahu, mungkin aku
tidak lagi akan bertemu dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat ini,
untuk selama-lamanya… Ayyuhan Nas, sesungguhnya darah dan hartamu adalah
haram bagimu hingga kalian menemui Tuhanmu sebagaimana diharamkannya
hari dan bulanmu ini. Sesudah itu, kamu sekalian akan menemui Tuhanmu
dan ditanya tentang amal-amalmu. Sungguh, aku telah sampaikan hal ini.
Maka, barangsiapa yang masih mempunyai amanat, hendaknya segera
disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya…..
Akar-akar
syirik telah dihapuskan dari Mekah, dan Mekah menjadi sebuah kota suci
bagi kaum muslim, tempat berkumpulnya muslimin dari seluruh penjuru
dunia, dengan menggunakan pakaian yang sama, menuju Tuhannya, tidak ada
perbedaan, baik kaya, miskin, raja, rakyat, semuanya sama dihadapan
Tuhan, yang membedakannya adalah takwa.
Muhammad
telah melaksanakan tugasnya, dan sekarang beliau berada di pembaringan,
Nabi membuka mata seraya berkata kepada putrinya dengan suara pelan
Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu
akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka
tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
VIII. Kronologi Sejarah Nabi Muhammad S.A.W
Kronologi
adalah urutan waktu terjadinya suatu peristiwa. Berikut ini tanggal dan
lokasi penting dalam hidup Muhammad (tahun dalam Masehi) di kutip dari
Wikipedia Indonesia.
569 Meninggalnya ayah, Abdullah
570 Tanggal lahir (perkiraan), 20 April: Makkah
570 Tahun Gajah, gagalnya Abrahah menyerang Mekkah
576 Meninggalnya ibu, Aminah
578 Meninggalnya kakek, Abdul Muthalib
583 Melakukan perjalanan dagang ke Suriah
595 Bertemu dan menikah dengan Khadijah
610 Wahyu pertama turun: Makkah
610 Ditunjuk sebagai Nabi: Makkah
613 Memulai menyebarkan Islam kepada umum: Makkah
614 Mendapatkan pengikut: Makkah
615 Hijrah pertama ke Habsyah
616 Boikot Quraish terhadap Bani Hasyim dan Muhammad mulai
619 Boikot Quraish terhadap Bani Hasyim dan Muhammad selesai
619 Tahun kesedihan: Khadijah dan Abu Thalib meninngal
620 Isra’ dan Mi’raj
621 Bai’at Aqabah pertama
622 Bai’at Aqabah kedua
622 Hijrah ke Madinah
624 Pertempuran Badar
624 Pengusiran Bani Qaynuqa
625 Pertempuran Uhud
625 Pengusiran Bani Nadir
626 Penyerangan ke Dumat al-Jandal: Suriah
627 Pertempuran Khandak
627 Penghancuran Bani Quraizhah
628 Perjanjian Hudaybiyah
628 Melakukan umrah ke Ka’bah
628 Pertempuran Khaybar
629 Melakukan ibadah haji
629 Pertempuran Mu’tah
630 Pembukaan Kota Makkah
630 Pertempuran Hunain
630 Pendudukan Thaif
631 Menguasai sebagian besar Jazirah Arab
632 Pertempuran Tabuk
632 Haji Wada’
632 Meninggal (8 Juni): Madinah
570 Tanggal lahir (perkiraan), 20 April: Makkah
570 Tahun Gajah, gagalnya Abrahah menyerang Mekkah
576 Meninggalnya ibu, Aminah
578 Meninggalnya kakek, Abdul Muthalib
583 Melakukan perjalanan dagang ke Suriah
595 Bertemu dan menikah dengan Khadijah
610 Wahyu pertama turun: Makkah
610 Ditunjuk sebagai Nabi: Makkah
613 Memulai menyebarkan Islam kepada umum: Makkah
614 Mendapatkan pengikut: Makkah
615 Hijrah pertama ke Habsyah
616 Boikot Quraish terhadap Bani Hasyim dan Muhammad mulai
619 Boikot Quraish terhadap Bani Hasyim dan Muhammad selesai
619 Tahun kesedihan: Khadijah dan Abu Thalib meninngal
620 Isra’ dan Mi’raj
621 Bai’at Aqabah pertama
622 Bai’at Aqabah kedua
622 Hijrah ke Madinah
624 Pertempuran Badar
624 Pengusiran Bani Qaynuqa
625 Pertempuran Uhud
625 Pengusiran Bani Nadir
626 Penyerangan ke Dumat al-Jandal: Suriah
627 Pertempuran Khandak
627 Penghancuran Bani Quraizhah
628 Perjanjian Hudaybiyah
628 Melakukan umrah ke Ka’bah
628 Pertempuran Khaybar
629 Melakukan ibadah haji
629 Pertempuran Mu’tah
630 Pembukaan Kota Makkah
630 Pertempuran Hunain
630 Pendudukan Thaif
631 Menguasai sebagian besar Jazirah Arab
632 Pertempuran Tabuk
632 Haji Wada’
632 Meninggal (8 Juni): Madinah
Langganan:
Postingan (Atom)